Wednesday, September 29, 2010
MENGHADAPI FITNAH
TEGAR MENGHADAPI FITNAH
Sesungguhnya kita hidup di jaman yang penuh dengan fitnah. Fitnah berupa kekafiran, kemunafikan, ataupun kebid’ahan dan kemaksiatan. Satu fitnah belum selesai tiba-tiba datang fitnah yang baru. Sementara fitnah itu turun bagaikan derasnya curahan air hujan yang membasahi sudut-sudut pemukiman. Terkadang ia datang secara bergelombang bagaikan ombak lautan. Sehingga membuat kaum muslimin bagaikan sampah yang diseret oleh aliran air, tidak jelas arahnya. Terombang-ambing ke sana kemari. Ketika fitnah ini muncul di permukaan, hanya diketahui oleh segelintir manusia yaitu ahli ilmu, sedangkan kebanyakan manusia baru menyadarinya setelah fitnah itu berkecamuk dan membara di mana-mana.
Fitnah-fitnah itu muncul dari dua sumber utama yaitu dari godaan hawa nafsu dan kerancuan pemikiran alias syubhat. Fitnah yang pertama menyerang pada kekuatan hati manusia untuk konsisten di atas jalan yang lurus. Sedangkan fitnah yang kedua menyerang pada kekuatan hati manusia untuk terus mencari kebenaran yang sesungguhnya. Oleh sebab itulah, setiap muslim diajarkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah pada setiap roka’at sholatnya, “Ya Allah, tunjukilah kepada kami jalan yang lurus.” Sedangkan hakikat jalan yang lurus itu adalah mengetahui kebenaran dan melaksanakannya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39). Dengan kata lain, kunci keberhasilan untuk mengatasi fitnah-fitnah yang ada adalah dengan mengendalikan dua buah kekuatan, yaitu kekuatan ilmiyah nazhariyah (ilmu dan pemahaman) dan kekuatan amaliyah iradiyah (amal dan tekad). Semakin sempurna kemampuan seseorang dalam menggunakan kedua kekuatan ini maka semakin sempurna pula kebahagiaan hidupnya (lihat al-Fawa’id, hal. 20). Dua hal ini tergabung di dalam sabar dan keyakinan, terjalin di dalam iman dan keistiqomahan.
Berpegangteguhlah dengan agamamu!
Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan tiba suatu masa ketika itu orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti halnya orang yang sedang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi [2260] di dalam Kitab al-Fitan, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [957]). Maka di saat-saat seperti sekarang ini ketika banyak orang yang tenggelam dalam pemuasan hawa nafsu tanpa mempedulikan rambu-rambu agama dan sebagian lagi terseret oleh arus pemikiran yang menyimpang dari jalan yang lurus, maka tidak selayaknya kaum muslimin ikut-ikutan hanyut di dalamnya.
Di antara jalan keluar dari berbagai macam fitnah yang ada ini adalah :
1. Senantiasa bertakwa kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan baginya jalan keluar.” (QS. at-Thalaq : 2). Allah ta’ala menjanjikan, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. at-Thalaq : 4)
2. Bertawakal kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. at-Thalaq : 3).
3. Bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran. Allah ta’ala menjanjikan, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam mencari keridhoan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut : 69).
4. Membersihkan diri dari segala bentuk kesyirikan dan kezaliman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. al-An’aam : 82)
5. Patuh kepada syari’at Rasul dan tidak melenceng darinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintahnya, karena mereka akan tertimpa fitnah (penyimpangan) atau tertimpa azab yang sangat pedih.” (QS. an-Nuur : 63)
6. Bertanya kepada ahli ilmu untuk mengatasi masalah umat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl : 43)
7. Kembali kepada bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. an-Nisaa’ : 59)
8. Senantiasa mengingat Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku jangan sekali-kali kalian ingkar.” (QS. al-Baqarah : 152)
9. Menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaknya ada sekelompok orang di antara kalian yang mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali Imran : 104)
10. Bertaubat dari segala kesalahan. Allah berfirman (yang artinya), “Bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nuur : 31)
11. Mengikuti pemahaman para sahabat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apabila mereka beriman sebagaimana apa yang kalian imani (sahabat) sungguh mereka telah mendapatkan hidayah.” (QS. al-Baqarah : 137)
12. Senantiasa berdoa kepada Allah agar dibimbing menuju keridhoan-Nya. Di antara doa yang diajarkan kepada kita adalah ‘Rabbanaa laa tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana, wa hablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab (Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau lah Dzat Yang Maha Pemberi karunia) (lihat QS. Ali Imran : 8)
13. Mendasari ucapan dan tindakan dengan ilmu. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isro’ : 36)
14. Berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan berita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita maka telitilah terlebih dahulu kebenarannya…” (QS. al-Hujurat : 6)
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat, dan semoga Allah berkenan melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk istiqomah di atas jalan-Nya hingga ajal tiba. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Tuesday, September 28, 2010
Al-Aqsa Mosque, Jerusalem
Al-Aqsa Mosque, Jerusalem
Al-Masjid El-Aqsa is an Arabic name which means the Farthest Mosque. To understand its name, and its importance, it must be remembered that the roots of Islam began in the Arabian Peninsula (Saudi Arabia today).
Ten years after the Prophet Mohammad (pbuh) received his first revelation, he made a miraculous night journey from Mecca to Jerusalem and to the Seven Heavens on a white flying horse called Al-Buraq El-Sharif. During his interval in Jerusalem, the Prophet stopped to pray at the rock (now covered by the golden Dome), and was given the commandment to pray five times a day.
Today, Muslims throughout the World use Mecca as the direction of prayers (Qibla). However, for 16½ months following the Prophet Mohammad's miraculous journey, Jerusalem was the Qibla.
During Prophet Mohammad's life (pbuh), he instructed Muslims to visit not only the mosque where they lived in Mecca, but also the 'Farthest mosque' from them which lay 2000 kilometers north, in Jerusalem. Hence the name Al-Masjid El-Aqsa, or Al-Aqsa Mosque.
Al-Aqsa Mosque is the second oldest mosque in Islam after the Ka'ba in Mecca, and is third in holiness and importance after the mosques in Mecca and Medina.
The rectangular Al-Aqsa Mosque is 144,000 square meters, 35 acres, or 1/6 of the entire area within the walls of the Old City of Jerusalem as it stands today. It is also called Al-Haram El-Sharif (the Nobel Sanctuary). The Dome of the Chain marks the exact central point of this Mosque.
Al-Aqsa Mosque holds up to 400,000 worshippers at one time, bearing in mind that the space required for each person is roughly 0.8m x 0.5m to enable the submissive kneeling in prayer. On Fridays at noon, during the fasting month of Ramadan, and particularly the 27th of Ramadan (Lailat El-Qadr), the area is filled to virtual capacity.
There are 11 gates to Al-Aqsa Mosque: 7 of which are open. Of the 4 closed gates, one is the Golden Gate.
Indications of any Muslim mosque the World over is the thin spiral minaret which always immediately adjoins the Mosque wall. Minarets are used to call Muslims to prayer five times a day, seven days a week throughout the year. At Al-Aqsa Mosque, there are four minarets: 3 square and 1 cylindrical from the Mamluk period.
There are no minarets on the Eastern side of Al-Aqsa Mosque because there were no inhabitants and thus no-one to call to prayer. After all, it was not till the late nineteenth century that Jerusalem began to expand outside the city walls.
Al-Aqsa is made up of 3 parts, narrow arcades run along one end, a huge atrium and a covered area at the south.
Running alongside the arcades are several family burial sites (maqamat). These persons contributed to the schools and charities in the vicinity of the Mosque run by the Supreme Muslim Council.
The atrium of Al-Aqsa Mosque is an oasis of peace and tranquillity inside a walled city of hustle and bustle. It has trees, lawns, fountains, the beautiful Shrine of the Dome of the Rock, small domed rooms and structures which are rooms for scholars, sheikhs and religious court offices, and a museum.
Before Muslims pray, they are required to go through a ritual ablution. There are manuablution areas, but the Cup is one of the oldest and most photographed fountains on the Mosque grounds.
In the center of the southern end of the atrium is the covered area of Al-Aqsa Mosque. The Mihrab (niche showing direction of prayer) of the Mosque is located here. Al-Aqsa building (recognizable by its lead dome), was originally built nearly 1300 years ago by Muslim Caliph Al-Walid the son of AbdulMalek bin Marwan in 709 AD.
Throughout its history, Al-Aqsa was subject to successive restoration work due to damages caused by earthquakes, etc. The building now has the central nave and 6 aisles (the original covered area had 14 aisles).
The covered area of Al-Aqsa Mosque is a very simple, but large and imposing, rectangular structure. It has an area of 3500 square meters, and holds up to 5000 Muslims at prayer at one time. The Qibla facing south towards Mecca and the Rock within the Dome of the Rock are on the same central line.
There are 7 large gates to enter the Mosque's covered area, as well as 1 single door on both the eastern and western sides. There are over 100 clear and colored glass windows, 14 Arches, 27 Italian Marble columns on the eastern side, and the equivalent number of stone piers on the western side.
The outer dome was covered with Lead in 1985 replacing the Aluminum dome of 1964 in order to restore it to its original cover.
The inner dome, decorated with stucco work, dates back to the 13th century.
In accordance with Muslim tradition, men and women are permitted to pray within the covered area but in different sections, 3 times a day. The remaining two daily prayers as well as Friday noon prayers, Al-Aqsa is for men only. The covered part of Al-Aqsa Mosque was converted to a Knight's Hostel in part, and Chapel in part during the Crusader period. Restoration of Islamic atmosphere was done by Salahuddin Al-Ayyoubi.
In 1969, after 2 years of Israeli occupation, a fanatic Jew set fire to the covered area for the first time in its history. Repairing the damage from the fire still continues. Among the numerous sad losses was the beautiful handmade pulpit from Aleppo. It was a gift from Salahuddin Al-Ayyoubi and stood near the Mihrab (niche) in Al-Aqsa Mosque. This Pulpit, considered one of the most beautiful in the World, was made of over 10,000 interlocking pieces of Cedar and other wood, Ivory and mother of pearl affixed without a drop of glue or a single nail. A remaining section of this Pulpit is among the various artifacts on display at the Islamic Museum, in the southern corner of the Noble Sanctuary.
The restoration of the subterranean Marwani Musallah (praying place) was completed in 1996. It is 4000 square meters, and was tiled in a brief 2 months entirely by volunteers. The Marwani Musallah is mistakenly believed by some to be the site of King Solomon's stables, however its construction is actually entirely 8th century Umayyad.
In the middle of the 19th century Al-Aqsa Mosque was opened for Non-Muslim visitors. For Non-Muslims, the Mosque is open during fixed times on weekday mornings and afternoons on payment of an entrance fees. The Mosque is closed to Non-Muslims on Fridays throughout the year and all Muslim holidays.
Although in the past, everyone entered Al-Aqsa Mosque without shoes, now Muslims and tourists alike are permitted to enter Al-Aqsa with shoes. Shoes however, have to be removed to enter the Dome of the Rock and Al-Aqsa's enclosed area as a sign of cleanliness and respect. Cameras likewise, are permitted in Al-Aqsa Mosque, but not inside any building. Visitors should ensure they are modestly dressed with arms and legs covered. Ladies should have a scarf to cover their hair. While on holy ground, intimate or personal contact must be avoided.Sunday, September 19, 2010
Mengimbas Kembali Ulamak Negeri Kelantan 1834 -1976
Dari serupasekala.blogspot.com
Mengimbas Kembali Ulamak Negeri Kelantan 1834 -1976
Marilah sama-sama kita mengenangkan kembali sejarah hidup para alim ulamak dari Kelantan. Seramai dua belas orang tokoh telah dipilih. Kita mulakan dengan kisah dari seorang demi seorang.

HAJI ABDUL MALEK SUNGAI PINANG
(1834 – 1934)
Tokoh guru pondok akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang seangkatan dengan Tok Mesir, Tok Ayah Kerasak, Haji Nik Mat Dagu dan Haji Ismail Pengkalan Paung. Rakan akrab Haji Abdul Latif Jalaluddin (Bilal Masjid Kayu Kota Bharu).
Nama penuhnya ialah Haji Abdul Malek bin Hasan. Lahir di Kg. Sungai Pinang, Tumpat sekitar 1834 dari kalangan keluarga yang sangat miskin. Menuntut ilmu di Patani dan kota suci Makkah selama 14 tahun. Beliau masyhur alim Quran dan kitab Jawi.
Selain mengajar al-Quran dan kitab Jawi beliau banyak terlibat dalam usaha membanteras amalan khurafat dan syirik, termasuk memuja kubur serta amalan ilmu sihir.
Di peringkat negeri pula, beliau turut tersenarai dalam panel ulama yang dijadikan pakar rujuk oleh Sultan Mansor Ibn Sultan Ahmad (dekad 1890-an) dalam menguatkuasakan undang-undang Islam seperti hukuman hudud kepada pencuri dan pembunuh (diarak keliling pekan), hukuman ta’zir kepada orang yang tidak berpuasa dan tidak menutup aurat (dilumur belaking).
Kebanyakan murid-murid Tuan Guru Haji Abdul Malek diberkati Allah dengan ilmu mereka serta berjaya melahirkan barisan pendidik pelapis pada zaman masing-masing. Antara murid-murid kenamaannya : Tok Jerulong @ Haji Mohd. Said Muhammad, Haji Samat Hasan Padang Chenok, Haji Che Mat Taib Pasir Pekan Hilir, Haji Ismail Musa Temangan, Haji Wan Abdullah Kg. Chap/Sungai Pinang, Wak Haji Khatib Ahmad Bemban/Binjai, Tok Kedah @ Haji Idris Penggawa Kangkong, Haji Mahmud Ali (Imam Kangkong), Haji Daud Saamah (bapa kepada Tuan Guru Haji Saad Kangkong), Haji Mohd.
Akib Ismail Kg. Kelar, Tuan Guru Haji Ali Pulau Pisang, Tuan Guru Haji Abdullah Senik (pengasas Pondok Padang di Pasir Mas), Tuan Guru Haji Wan Ahmad Abdul Halim (pengasas Pondok Padang Jelapang), Tuan Guru Haji Abdul Rahman Osman (pengasas Pondok Selehong), Tuan Guru Haji Yusoff Abdul Rahman (pengasas Pondok Pulau Ubi), Haji Ibrahim Tok Raja (Mufti Kerajaan Kelantan) dan Haji Seman Sering (kemudian lebih terkenal dengan nama Syeikh Osman Jalaluddin al-Kalantani).
Datuk kepada Dato’ Dr. Nik Safiah Karim (Profesor Adjung di Universiti Malaya) ini kembali ke rahmatullah di Sungai Pinang pada malam Rabu 11/12 Ramadhan 1353 bersamaan 18 Disember 1934.

TOK KENALI
(1870 – 1933)
Tokoh ulama Kelantan paling masyhur, malah termasuk antara ulama besar Semenanjung Melayu. Sezaman dengan Tuan Husein Kedah, Pak Wan Sulaiman (Syeikhul Islam Kedah), Haji Abdullah Fahim (Mufti Pulau Pinang), Haji Abu Bakar Alim (Muar), Haji Mat Shafie Losong (Terengganu) dll. Guru pondok yang sangat dihormati, bahkan hingga sekarang pun namanya masih menjadi bualan dan disebut ramai.
Nama sebenar tokoh pendidik yang dilahirkan di Kg. Kenali, Kubang Kerian, Kota Bharu pada 1287H/1870M ini ialah Haji Mohd. Yusoff Ahmad.
Menuntut di Makkah selama 22 tahun (1305H – 1327H). Sangat alim dalam ilmu tatabahasa Arab (nahu/soraf), malahan beliaulah yang merintis kemasukan mata pelajaran ini ke dalam kurikulum pengajian pondok (sebelum ini, tertumpu pada usuluddin, fiqh dan tasawuf sahaja).
Walaupun Tok Kenali tidak meninggalkan karya tulis yang besar seperti Tuan Padang, Tuan Tabal dan Tok Wan Ali Kutan, namun beliau berjaya melahirkan satu angkatan ulama pelapis paling berwibawa – bukan sahaja di negeri Kelantan, tetapi juga di luar Kelantan.
Antara murid-murid jempolannya termasuklah : Hj. Mat Jebeng (kemanakannya), Hj. Che Mat Padang Mengkali, Lebai Deraman Pasir Mas, Hj. Seman Sering (Syeikh Osman Jalaluddin al-Kalantani), Hj. Yaakub Lorong Gajah Mati, Hj. Abdul Kadir Melor, Hj. Abdullah Tahir Bunut Payong, Hj. Yusoff Padang Bemban, Hj. Awang Lambor, Dato’ Hj. Ahmad Maher al-Azhari, Hj. Ali Pulau Pisang, Hj. Abdul Majid Kayu Rendang, Hj. Mat Pauh, Hj. Awang Serendah, Hj. Daud Bukit Abal, Hj. Awang Beta, Hj. Hamzah Padang Bemban, Hj. Ismail Perol, Dato’ Hj. Ismail Yusoff, Hj. Abdul Rahman Lubok Tapah, Hj. Hasbullah Bot dan Hj. Nor Bot. Manakala dari luar Kelantan pula tersenarai pula nama-nama seperti Hj. Wan Abdul Latif Jerteh, Hj. Zainal Abidin Dungun, Dato’ Hj. Hasan Yunus al-Azhari (Menteri Besar Johor), Dato’ Hj. Abdul Rahim Yunus (Mufti Kerajaan Johor), Hj. Abdul Wahid Osman Sungai Udang, Hj. Ibrahim Bongek Rembau, Syeikh Mohd. Idris al-Marbawi al-Azhari Kuala Kangsar, Hj. Osman Bukit Besar, Hj. Abdullah Abbas Nasution Jitra, Hj. Bahauddin Sumatera Jeneri, Hj. Hasan Lampung, Hj. Yaakub Legor dan Tok Lata (Patani).
Di samping itu, dua orang putera Tok Kenali sendiri – Tuan Guru Hj. Ahmad dan Syeikh Mohd. Saleh Kenali (menetap di Makkah) – juga tergolong ulama dan pendakwah yang berjasa besar.
Nyatalah rumusan yang menyebut Kelantan sebagai “Serambi Mekah” itu sangat terkait dengan kehebatan dan kemasyhuran nama Tok Kenali.
Tok Kenali kembali ke rahmatullah di kediamannya pada pukul 7.30 pagi Ahad 2 Syaaban 1352 bertepatan 19 November 1933 dan dikebumikan di Kubang Kerian.

MUFTI HAJI WAN MUSA
(1875 – 1939)
Ahli tasawuf berpendirian tegas. Bergiat sezaman dengan Tok Selehong, Haji Che Leh Kg. Laut, Tengku Mahmud Zuhdi (Syeikhul Islam Selangor). Putera kedua Tuan Tabal dan adik kandung Mufti Haji Wan Muhammad, juga abang kepada Haji Nik Abdullah Khatib. Nama penuhnya ialah Haji Wan Musa bin Haji Abdul Samad. Bapanya, Haji Abdul Samad bin Mohd. Saleh al-Kalantani (lebih masyhur dengan gelaran Tuan Tabal) ialah penyebar perintis tarekat Ahmadiyah di rantau ini, juga tergolong ulama pengarang yang banyak menulis kitab Jawi – terpentingnya Minhat al-Qarib (1883).
Haji Wan Musa adalah seorang rakan seperguruan Tok Kenali, terkenal dengan fikiran-fikiran yang berani tetapi kontroversi. Namun, beliau terpilih dan ditawarkan jawatan Mufti Kerajaan Kelantan selepas pengunduran Mufti Haji Wan Ishak pada awal 1909.
Sikapnya yang tegas serta pandangan-pandangannya yang cenderong kepada reformasi telah menyeret beliau ke kanchah pertelagahan pendapat dengan tokoh-tokoh “Kaum Tua” seperti Haji Omar Sungai Keladi, Haji Ibrahim Tok Raja, Haji Ismail Kemuning dan Haji Ahmad Abdul Mannan. Di luar Kelantan pula, beliau pernah berpolemik dengan Tengku Mahmud Zuhdi al-Fatani – penulis Tazkiyat al-Anzar (1920) yang menghujah balas pendapat Haji Wan Musa.
Antara persoalan kontroversi yang berbangkit sehubungan dengan pendapat beliau ialah isu membina masjid dengan harta zakat fitrah, hal muqaranah sembahyang, talqin, kain telekung sembahyang, talfiq mazhab, pemindahan harta wakaf/pusaka dan perbahasan jilatan anjing. Keyakinannya kepada pendapat-pendapat yang pernah diluahkannya serta pertelingkahannya yang lama dengan tokoh-tokoh “Kaum Tua” menyebabkan beliau melepaskan jawatan Mufti pada pertengahan 1916.
Sebagai tokoh berwibawa, halaqat pengajian kitab di suraunya di Jalan Merbau, Kota Bharu berjaya melahirkan ramai pendakwah pelapis yang mampu mengajar baik di sekolah pondok mahupun di sekolah moden. Mereka termasuk Hj. Saad Kangkong, Pak Su Wan Adam Kg. Laut, Hj. Mohd. Zain Meranti, Hj. Nik Mat Alim Pulau Melaka, Hj. Abdul Mannan Sumatera, Hj. Abdul Wahid Melaka, Hj. Ahmad Perak dan Hj. Ayyub Kemboja. Putera-putera beliau sendiri pun tergolong alim ulama’ yang disegani. Antara tokoh-tokoh yang dimaksudkan ialah Hj. Nik Abdullah, Hj. Nik Mat Nazir, Hj. Nik Mud, Hj. Nik Leh dan Hj. Nik Mat Din. Pusaka lainnya ialah dua risalah terjemahan yang selesai disusun seawal 1906 lagi.
Mufti Haji Wan Musa kembali ke alam baka pada 3.00 petang Sabtu 24 Zulkaedah 1357 bertepatan 14 Januari 1939 dan dikebumikan di tanah perkuburan Kg. Banggol, Jalan PCB, Kota Bharu.

TOK SELEHONG
(1872 – 1935)
Tokoh Guru Pondok paling terkemuka di Jajahan Tumpat selepas zaman Haji Abdul Malek Sungai Pinang. Seangkatan dengan Tok Kenali, Tok Padang Jelapang, Tok Bachok, Tok Seridik dan Tok Kemuning.
Nama sebenarnya ialah Haji Abdul Rahman bin Haji Osman. Kadang-kadang dipanggil juga dengan nama Haji Abdul Rahman Syair atau Tok Syair kerana kepandaiannya mengarang syair.
Seorang daripada guru awalnya tentulah Haji Abdul Malek Sungai Pinang yang berdekatan dengan kampungnya. Kemudian menyambung belajar di Pondok Cha-ok, Patani berguru dengan Tok Cha-ok @ Haji Abdullah bin Mohd. Akib. Akhir sekali pergi mendalami pengajian di kota Makkah – berguru dengan Pak Chik Wan Daud Patani, Tuan Mukhtar Bogor, Tok Shafie Kedah dan ramai lagi.
Selepas 18 tahun bermukim di tanah suci Makkah, pulang ke tanah air (1921) lalu mengasas pusat pengajian pondok sendiri di pinggir Sungai Selehong. Di pondok inilah beliau mengajar dan mengembangkan pondoknya yang sangat dikenali ramai pada zaman itu. Bidang ilmu yang sangat ditumpukannya ialah ihsanuddin atau tasawuf dengan Syarh Hikam Ibn Ata’Allah sebagai teks utama.
Tok Guru Selehong masyhur sebagai ahli sufi yang zahid. Bagi tujuan supaya hatinya tidak tertambat kepada dunia, beliau menggali sebuah lubang khas dalam kawasan tanah perkuburan Islam berhampiran Pondok Selehong yang dijadikannya semacam kamar khusus tempat beliau beribadat dan bersuluk.
Hobi tok guru yang pandai bersilat ini pun agak aneh. Beliau bukan sahaja sering keluar memikat ikan dan berburu rusa, malahan meminati haiwan yang cantik-cantik seperti kuda, biri-biri jantan, ayam jantan laklung persis orang pilihara ayam serama zaman kini.
Bapa mertua kepada Tuan-tuan Guru Haji Ahmad Bat Tiga Repek dan Haji Awang Beta ini kembali ke rahmatullah pada jam 8.30 malam Khamis 18 Zulkaedah 1353 bersamaan 20 Februari 1935 dan dikebumikan di Kubor Selehong, Tumpat.
Kegiatan dakwah Islamiahnya diteruskan oleh murid-muridnya hingga ke hari ini. Antara yang masyhur termasuklah Pak Chu Che Abbas Kelong, Haji Yaakub Kelong, Haji Pak Man Berangan, Haji Che Mamat Kok Keli., Haji Awang Lambor, Haji Yaakub Wakaf Bharu, Haji Abdul Rahman Dalam Pator, Haji Abdul Rahman Tendong, Hj. Abdul Rahman Pohon Tanjung, Hj. Abdullah Tal Tujoh, Hj. Che Mat Padang Upeh, Hj. Abdul Aziz Kg. Tujoh, Hj. Mat Bola Geting, Hj. Saleh Pedada Bunohan, Pak Su Wil Kg. Dangar, Hj. Abdul Kadir Gaal, YB Hj. Muhammad Batu Hitam dan Hj. Wan Abdul Latif Jerteh (Terengganu).

SHEIKH OSMAN JALALUDDIN AL-KALANTANI
(1880 – 1952)
Salah seorang guru pondok dan ulama’ pengarang tersohor di Semenanjung Melayu pada suku kedua abad ke-20 Masihi. Seangkatan dengan Tok Seridik, Haji Ismail Pontianak, Haji Omar Banggol Kulim, Dato’ Perdana, Haji Mat Jebeng. Beliau bukan sahaja terkenal di Kelantan dan Pulau Pinang, tetapi juga terbilang di Makkah.
Nama penuh tokoh ulama kelahiran Kg. Panjang, daerah Sering di sempadan jajahan Kota Bharu/Bachok pada penghujung 1297H/1880M ini ialah Haji Osman bin Muhammad. Lantaran itu pada peringkat awalnya beliau lebih dikenali dengan panggilan Haji Seman Sering.
Beliau termasuk dalam kumpulan murid kesayangan Tok Kenali. Juga pernah berguru dengan Haji Jamaluddin Perupok dan Haji Abdul Malek Sungai Pinang. Di Makkah pula, beliau sering mendampingi Tuan Mukhtar Bogor (Syeikh Mohd. Mukhtar bin Atarid) yang ternama itu.
Namanya mula “timbul” selepas kejayaan beliau mendirikan Madrasah Manabi’ al-Ulum (1932) di Penanti, Bukit Mertajam. Madrasah ini kemudiannya muncul sebagai pusat pengajian pondok yang paling maju di Seberang Perai, khususnya pada dasawarsa 1930-an dan 1940-an.
Sebagai pendidik yang dedikasi beliau banyak menghasilkan karya sendiri dan terjemahan. Syeikh Osman bukan sahaja berhati-hati dalam menghasilkan sesuatu karangan, tetapi juga selalu memilih topik yang berkait rapat dengan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Kitab al-Durrat al-Nafi’ah (Alamat Kiamat) karangannya meletakkan beliau sebagai sasterawan Islam yang berpandangan jauh kerana ia dianggap buku berbahasa Melayu paling terperinci membicarakan perihal tanda-tanda dunia hampir kiamat.
Di samping itu Syeikh Osman kerap berulang-alik ke Makkah dan diberi kepercayaan mengajar di Masjid al-Haram. Sebab itu muridnya ramai. Mereka termasuk Hj. Abdul Rahman Sungai Durian, Hj. Abdul Rahman Lubok Tapah, Hj. Abdullah Lati, Hj. Abdullah Kg. Laut, Hj. Hassan Ketereh, Hj. Abu Bakar Tiu, Hj. Mohd. Ibrahim Akibi Pulau Pinang, Hj. Ismail Merbok, Hj. Husein Umbai, Hj. Abdul Ghani Kubang Bemban dan antara yang masih ada lagi ialah Ustaz Abdul Kadir Kamaluddin (lahir 1921), Ketapang Tengah, Pekan, Pahang.
Tokoh yang amat mementingkan istiqamah dan disiplin diri ini ditakdirkan meninggal di tanah suci Makkah waktu fajar hari Jumaat 30 Zulhijjah 1371 bersamaan 19 September 1952.

HAJI ISMAIL PONTIANAK
(1882 – 1950)
Tokoh ulama’ perantau. ‘Khatib Masjib Muhammadi dekad 1940-an yang paling popular. Lahir sezaman dengan Mufti Haji Idris , Dato’ Perdana Haji Nik Mahmud, Tok Seridik dan Syeikh Osman Jalaluddin al-Kalantani. Nama penuhnya ialah Haji Ismail bin Abdul Majid, tetapi lebih dikenali dengan panggilan Haji Ismail Pontianak kerana lamanya beliau berkelana dan bermastautin di Pontianak (Kalimantan Barat), bahkan pernah dilantik menjadi Mufti Kerajaan Pontianak – berkhidmat selama suku abad (1910 – 1935).
Meskipun demikian, Haji Ismail akhirnya kembali menetap di Kelantan. Kerjaya awal tokoh lepasan Makkah ini dalam perkhidmatan Majlis Agama Islam Kelantan (MAIK) bermula pada 1 Januari 1940 apabila beliau dilantik menjadi guru kitab di Jami’ Merbau al-Ismaili dengan gaji permulaan $47.50 sebulan. Selanjutnya, beliau dipilih menganggotai Jemaah Ulama’ MAIK (10 April 1940 hingga 8 Februari 1947). Selain daripada itu, dilantik sebagai Penterjemah Arab (semenjak 1 Julai 1941).
Zaman gemilang perkhidmatannya bermula pada 1 Mei 1943 apabila beliau dilantik menjadi Khatib di Masjid Muhammadi, Kota Bharu. Berbeza dengan tok-tok khatib sebelumnya yang masih terikat dengan nota atau teks Arab sepenuhnya, Haji Ismail memperkenalkan khutbah tanpa teks di tangan. Kepetahan beliau menyampaikan khutbahnya secara spontan, dalam bahasa ibunda pula, terbukti sangat berkesan. Walaupun khutbahnya agak panjang, tetapi ahli jemaah tidak bosan.
Ini kerana beliau bijak menyusun kata, pandai menyelit ungkapan bahasa “segar”, bersesuaian dengan suasana yang mampu membuat sidang hadirin tidak jemu atau mengantuk. Beliau bukan sahaja popular di kalangan ahli jemaah dan anak-anak muridnya, malah sangat disenangi oleh Sultan Ibrahim sehinggalah dilantik menjadi guru agama merangkap Imam di Istana baginda.
Khatib panutan ini meninggal di rumahnya, Jalan Pengkalan Chepa, Kota Bharu pada tengah malam Isnin 18 Muharram 1370 bersamaan 19 Oktober 1950 dan dikebumikan di Kg. Labok, Machang – kampung asalnya.
Satu-satunya pusaka penulisan beliau yang diketahui sempat dicetak edar ialah Kitab Pedoman Kemuliaan Manusia (cetakan pertama 1938), setebal 320 muka iaitu sebuah karya “bunga rampai”.
HAJI ABDUL MALEK SUNGAI PINANG (1834 – 1934)
Tokoh guru pondok akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang seangkatan dengan Tok Mesir, Tok Ayah Kerasak, Haji Nik Mat Dagu dan Haji Ismail Pengkalan Paung. Rakan akrab Haji Abdul Latif Jalaluddin (Bilal Masjid Kayu Kota Bharu).
Nama penuhnya ialah Haji Abdul Malek bin Hasan. Lahir di Kg. Sungai Pinang, Tumpat sekitar 1834 dari kalangan keluarga yang sangat miskin. Menuntut ilmu di Patani dan kota suci Makkah selama 14 tahun. Beliau masyhur alim Quran dan kitab Jawi.
Selain mengajar al-Quran dan kitab Jawi beliau banyak terlibat dalam usaha membanteras amalan khurafat dan syirik, termasuk memuja kubur serta amalan ilmu sihir.
Di peringkat negeri pula, beliau turut tersenarai dalam panel ulama yang dijadikan pakar rujuk oleh Sultan Mansor Ibn Sultan Ahmad (dekad 1890-an) dalam menguatkuasakan undang-undang Islam seperti hukuman hudud kepada pencuri dan pembunuh (diarak keliling pekan), hukuman ta’zir kepada orang yang tidak berpuasa dan tidak menutup aurat (dilumur belaking).
Kebanyakan murid-murid Tuan Guru Haji Abdul Malek diberkati Allah dengan ilmu mereka serta berjaya melahirkan barisan pendidik pelapis pada zaman masing-masing. Antara murid-murid kenamaannya : Tok Jerulong @ Haji Mohd. Said Muhammad, Haji Samat Hasan Padang Chenok, Haji Che Mat Taib Pasir Pekan Hilir, Haji Ismail Musa Temangan, Haji Wan Abdullah Kg. Chap/Sungai Pinang, Wak Haji Khatib Ahmad Bemban/Binjai, Tok Kedah @ Haji Idris Penggawa Kangkong, Haji Mahmud Ali (Imam Kangkong), Haji Daud Saamah (bapa kepada Tuan Guru Haji Saad Kangkong), Haji Mohd.
Akib Ismail Kg. Kelar, Tuan Guru Haji Ali Pulau Pisang, Tuan Guru Haji Abdullah Senik (pengasas Pondok Padang di Pasir Mas), Tuan Guru Haji Wan Ahmad Abdul Halim (pengasas Pondok Padang Jelapang), Tuan Guru Haji Abdul Rahman Osman (pengasas Pondok Selehong), Tuan Guru Haji Yusoff Abdul Rahman (pengasas Pondok Pulau Ubi), Haji Ibrahim Tok Raja (Mufti Kerajaan Kelantan) dan Haji Seman Sering (kemudian lebih terkenal dengan nama Syeikh Osman Jalaluddin al-Kalantani).
Datuk kepada Dato’ Dr. Nik Safiah Karim (Profesor Adjung di Universiti Malaya) ini kembali ke rahmatullah di Sungai Pinang pada malam Rabu 11/12 Ramadhan 1353 bersamaan 18 Disember 1934.

HAJI SAAD KANGKONG
(1893 – 1943)
Imam waktu perintis di Masjid Besar Kota Bharu. Guru kitab Arab paling muda di Halaqat Kitab Masjid Muhammadi. Rakan setugas Haji Yaakub Legor dan Haji Yaakub Lorong Gajah Mati.
Nama penuhnya ialah Haji As’ad bin Haji Daud, berasal dari Kg. Kangkong, Pasir Mas.
Beliau tidak jemu-jemu belajar dan mengajar, semenjak muda sampai tua. Guru-guru utamanya termasuk Tok Kenali, Haji Ahmad Hafiz, Mufti Haji Wan Musa dan anaknya, Haji Nik Abdullah. Juga disebut-sebut pernah menuntut di Makkah selama tujuh tahun.
Apabila pentadbiran Majlis Agama Islam Kelantan (MAIK) memperkenalkan jawatan Imam Sembahyang Waktu di Masjid Besar Kota Bharu (sekarang Masjid Muhammadi), beliau terpilih sebagai penyandang pertamanya – berkhidmat mulai 19 Jun 1927 hingga 31 Disember 1930, bergaji $15 sebulan.
Sepanjang dasawarsa 1930-an beliau bertugas sepenuh masa sebagai guru kitab Arab di Masjid Muhammadi (nama rasmi Masjid Besar Kota Bharu), bergaji $30 sebulan dan meningkat ke $40 apabila bertukar ke Jami’ Merbau al-Ismaili (sejak awal 1941).
Haji Saad menggalakkan murid-muridnya supaya membaca akhbar dan majalah bagi menambah ilmu pengetahuan. Antara murid-murid kenamaannya termasuk Dato’ Haji Ismail (Mufti Kerajaan Kelantan), Haji Abdul Rahman Lubok Tapah, Haji Nik Man Sungai Budor, Haji Awang Beta, Haji Yusoff Tasek Berangan, Haji Nik Daud Tanah Merah, Haji Osman Padang Siam, Haji Ibrahim Apa-Apa, Haji Ismail Kg. Talak, Haji Che Mat Padang Upeh, Haji Yaakub Wakaf Bharu, Haji Abdullah Kg. Laut, Hj. Abdullah Aur China, Haji Abdullah Gemuk, Hutan Pasir, Hj. Mohd. Amin Tok Bachok (Qadhi), Haji Mustapha Idris (pesara Timbalan Qadhi Besar Kelantan), Ustaz Haji Wan Ahmad Kg. Menuang, Haji Yaakub Kg. Sireh (Pegawai Agama MAIK), Haji Abdul Shukor Kubang Gendang (kemudian menjadi menantunya), Haji Abdul Wahid Sungai Udang (Melaka), Haji Husain Hafiz Umbai (Melaka), Ahmad Zaini Haji Tahir Asahan (Sumatera) dan Haji Shuaib Ahmad Pulau Kerengga, Marang (Terengganu).
Sebagaimana rakan-rakan seperjuangannya beliau turut dilantik menjadi Ahli (Mesyuarat) Majlis Agama Islam Kelantan (1940).
Tuan Guru Haji Saad Kangkong ditakdirkan meninggalkan dunia secara mengejut di rumahnya sekitar jam 11.00 pagi 22 Jamadilakhir 1362 bersamaan 26 Jun 1943.
Bakat beliau dalam kegiatan dakwah kini diwarisi cucunya, Dr. Abdul Hayei Abdul Shukor (pensyarah Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya).

HAJI YAAKUB LORONG GAJAH MATI
(1895 – 1956)
Salah seorang guru agama paling terkemuka di Kota Bharu pada suku kedua abad ke-20 Masihi. Murid kanan Tok Kenali yang sebarisan dengan Haji Saad Kangkong, Haji Ali Pulau Pisang, Haji Abdullah Tahir Bunut Payong, Haji Mat Jebeng, Haji Ahmad Batu Tiga Repek dll.
Nama lengkap tokoh ulama yang berkediaman di Lorong Gajah Mati, Kota Bharu ini ialah Haji Yaakub bin Haji Ahmad.
Kerjaya awalnya bermula sebagai kerani di Mahkamah Syariah Kota Bharu dan pernah ditugaskan mengambil peringatan mesyuarat Jemaah Ulama Majlis Agama Islam Kelantan (MAIK). Mulai 1 April 1922, dilantik sebagai guru di Madrasah Muhammadiah (Sekolah Melayu Majlis) dengan gaji permulaan $20 sebulan. Selepas 15 tahun (mulai 1 Julai 1938), bertukar menjadi guru kitab di Masjid Muhammadi (nama rasmi Masjid Besar Kota Bharu) yang berperanan sebagai pusat pengajian pondok terpenting di Kelantan ketika itu. Gajinya meningkat ke $28 sebulan. Seterusnya mulai 1 Januari 1940, bertukar ke Jami’ Merbau al-Ismaili (nama awal Maahad Muhammadi) apabila pengajian kitab di Masjid Muhammadi berpindah ke situ. Gaji bulanannya sejak awal 1940 ialah $34 dan beliau kekal berkhidmat di situ sehingga 1945.
Antara murid-murid harapannya tersenarailah nama-nama seperti Tuan Guru Dato’ Hj. Nik Abdul Aziz (Menteri Besar Kelantan sekarang), Dato’ Hj. Ismail Yusoff (bekas Mufti Kerajaan Kelantan), Tuan Guru Engku Hj. Syed Hasan Lemal, Tuan Guru Hj. Awang Nuh Beris Kubor Besar, Ustaz Wan Mohd. Saghir Kg. Baru, Pasir Pekan, Tuan Guru Hj. Abdul Wahid Sungai Udang (Melaka) dan Tuan Guru Hj. Ahmad Osman, Hutan Palas, Bukit Keplu, Kodiang (Kedah).
Kewibawaan dan pengalaman luasnya sedemikian melayakkan beliau dilantik menganggotai Jemaah Ulama MAIK (seawal 1932) beberapa penggal.
Pada mulanya beliau termasuk pengikut Sidi Muhammad al-Azhari (pengembang tarekat Ahmadiyah di negeri Kelantan), tetapi kemudian mengubah sikap, iaitu setelah beliau berdamping dengan Maulana Tok Khurasan, guru perintis ilmu hadith di Kelantan.
Tuan Guru Haji Yaakub meninggal dunia di Kota Bharu pada waktu fajar hari Sabtu 6 Jamadilawal 1376 bersamaan 8 Disember 1956 dengan meninggalkan, antara lain, tiga orang putera yang dikenali ramai :-
• Dato’ Haji Che Husain (ahli perniagaan) – pewakaf Masjid al-Muttaqin di Lundang dan Masjid al-Ihsan di Dusun Muda, Kota Bharu;
• Hj. Hasan (pengasas Pustaka Aman Press, Kota Bharu);
• Ustaz Yusoff Zaky @ Dato’ Sri Setia Raja (pengarang terkemuka, pengasas Pustaka Dian, Kota Bharu).

HAJI ABDULLAH TAHIR BUNUT PAYONG
(1897 – 1961)
Salah seorang ulama besar negeri Kelantan yang masyhur alim dalam ilmu fiqh. Pendiri Pondok Bunut Payong yang terkenal ke seluruh Semenanjung itu. Seangkatan dengan Haji Ali Pulau Pisang, Haji Yaakub Lorong Gajah Mati, Haji Saad Kangkong, Haji Ahmad Batu Tiga Repek, Haji Saleh Pedada dll.
Dilahirkan di Kg. Sireh, Kota Bharu pada 20 Muharram 1315 bersamaan 20 Jun 1897, Bapanya, Haji Ahmad bin Mohd. Zain yang berasal dari Kg. Chepa, Kedai Lalat pernah berkhidmat sebagai Imam Tua di Masjid Langgar, Kota Bharu (berkhidmat sehingga 1920).
Sesudah berguru selama 15 tahun dengan Tok Kenali, beliau belayar ke tanah suci Makkah mendalami pengajiannya. Antara lain mengikuti kuliah Tuan Mukhtar Bogor, Syeikh Said al-Yamani, Syeikh Mohd. Ali al-Maliki dan beberapa tokoh yang lain lagi.
Sekembali ke Kelantan, beliau diminta menyertai kumpulan tenaga pengajar Halaqat Kitab di Masjid Muhammadi, Kota Bharu. Bagaimanapun, khidmatnya tidak lama kerana pada 1931, beliau memulakan kegiatan keguruannya sendiri di Bunut Payong yang diberi nama Madrasah Ahmadiah. Madrasah ini kemudian terkenal ke seluruh pelosok Semenanjung Melayu sebagai pusat pengajian pondok yang berprestasi tinggi di Kelantan.
Di Pondok Bunut Payong inilah Tuan Guru Haji Abdullah Tahir mengajar kitab hingga ke akhir hayatnya. Beliau terkenal sebagai seorang tok guru yang tekun mengajar serta mengamalkan disiplin diri yang keras lagi tegas.
Kerana kegigihannya yang sedemikian maka tidak peliklah jika Pondok Bunut Payong berjaya melahirkan ramai murid berilmu tinggi seperti Hj. Husain Rahimi, Hj. Nik Man Sungai Budor, Hj. Abdul Aziz Pasir Tumboh, Hj. Ismail Padang Lepai, Hj. Abdullah Kok Lanas, Hj. Omar Kubang Bemban, Hj. Abdul Rahman Slow Machang, Hj. Wook Lubok Chekok, Hj. Noor Teliar, Hj. Saulaiman Siram, Hj. Daud Bukit Bunga, Hj. Yaakub Kelong, Hj. Ghazali Pulai Chondong, Hj. Zakaria Selising, Hj. Osman Perlis, Hj. Ahmad Kodiang, Hj. Yahya Joned Gurun, Hj. Ibrahim Bongek, Hj. Abdul Wahid Sungai Udang, Hj. Husain Umbai, Hj. Ahmad Relai, Hj. Hasanuddin Berhala Gantang, Hj. Ismail Phuket, Hj. Ghazali Mundok.
Kerana ketokohannya juga beliau dilantik menganggotai Jemaah Ulama Majlis Agama Islam Kelantan beberapa penggal (seawal 1932).
Kematian Fuqaha’ ini pada pukul 7.20 pagi Selasa 4 Rabiulawal 1381 bersamaan 15 Ogos 1961 menyebabkan negeri Kelantan kehilangan seorang tokoh ilmuan yang menerangi budaya ilmu dan dakwah Islamiahnya.

HAJI ALI PULAU PISANG
(1899 – 1968)
Salah seorang guru pondok pertengahan abad ke-20 yang paling ternama di Kelantan. Murid harapan Tok Kenali terkanan yang mewarisi ilmu tatabahasa Arabnya. Seangkatan dengan Haji Abdullah Tahir Bunut Payong, Haji Yaakub Lorong Gajah Mati, Haji Saad Kangkong, Haji Awang Lambor dan Haji Awang Serendah. Rakan akrab Ayah Chik @ Lebai Omar Kubang Tuman.
Nama penuh tokoh ulama’ kelahiran mukim Pulai Pisang, daerah Badang, Kota Bharu ini ialah Haji Mohd. Ali Solahuddin bin Awang. Ibunya bernama Wan Kalsom. Beliau adalah anak ketiga daripada 9 beradik.
Selain Tok Kenali, guru-guru tempatan lainnya termasuk juga Haji Abdul Malek Sungai Pinang, Haji Yusoff Sungai Pinang (kemudian lebih dikenali dengan nama Tok Pulai Ubi), Tok Kemuning (di Pulau Kundor), Haji Omar Sungai Keladi, Pak Chik Musa, Haji Yaakub Legor dan Haji Ahmad Hafiz.
Namanya “timbul” kerana kealimannya dengan ilmu soraf (cabang tatabahasa Arab) sehingga digelar “Tok Sibaweh”. Tidak hairanlah jika Madrasah al-Falah (nama rasmi Pondok Pulau Pisang) yang dibangunkan beliau di Telok Chekering, Pulau Pisang senang menjadi tarikan para pelajar pondok. Sementelahan pula seawal 1932 lagi, Haji Ali dipilih menganggotai Jemaah Ulama’ Majlis Agama Islam Kelantan (MAIK) yang dipengerusikan oleh Dato’ Haji Ahmad Maher al-Azhari (Mufti Kerajaan Kelantan).
Berikutan dengan kematian Haji Saad Kangkong (1943), beliau dipinjam sebagai guru agama Kelas Khas di Jami’ Merbau al-Ismaili (pusat pengajian ilmu-ilmu Islam berbentuk sekolah pertama di Kelantan) yang menampung ramai pelajar elit dari dalam dan luar Kelantan pada awal dekad 1940-an; berkhidmat sehingga 1 Mac 1946. Selepas itu kembali semula ke kampus Masjid Muhammadi.
Antara murid-murid jempolannya Dato’ Haji Ismail Yusoff (Mufti Kerajaan Kelantan), Ustaz Dato’ Yusoff Zaki Yaakub (pengarang terkemuka dan penterjemah Tafsir fi Zilal al-Quran, Ustaz Ismail Yusoff (Imam Waktu Masjid Muhammadi), Ustaz Wan Mohd. Saghir Wan Konok Pasir Pekan, Ustaz Azhari Abdul Rahman Melor, Hj. Abdul Aziz dan Hj. Mustafa Pasir Tumboh, Hj. Zakaria Selising, Hj. Daud Geting, Hj. Daud Perakap, Hj. Nik Daud Tanah Merah, Hj. Wan Abdul Latif Jerteh, Hj. Abdul Wahid Sungai Udang (Melaka), Hj. Abdul Rashid Bagan Datok Perak dan Hj. Abdullah Abbas Nasution Tanjung Pauh (Kedah).
Ulama’ kesayangan Dato’ Mufti Haji Ahmad Maher ini kembali ke rahmatullah di kediamannya di Kg. Limau Putenge, Pulau Pisang pada pukul 7.05 pagi Khamis 11 Rejab 1388 bersamaan 3 Oktober 1968 dengan meninggalkan dua buah karya bercetak yang mengupas tentang ilmu soraf dan terjemahan Surah Yasin.

HAJI AWANG LAMBOR
(1900 – 1963)
Salah seorang guru pondok yang paling berpengaruh di Jajahan Tumpat pada pertengahan abad ke-20 Masihi. Seangkatan dengan Haji Mohd. Saleh Pedada, Haji Yaakub Kelong, Haji Daud Geting dan Haji Pak Man Berangan. Nama sebenar tokoh ulama’ yang dilahirkan di Kg. Padang Merbau, Lambor, Wakaf Bharu sekitar 1900 ini ialah Haji Abdullah bin Haji Omar.
Bapanya Haji Omar bin Haji Abdul Rahman – lepasan pondok di Patani – ialah seorang Khatib di surau mukim Jal Kecik, juga adik kepada Haji Yusoff bin Haji Abdul Rahman, Imam Tua mukim Meranti di Jajahan Pasir Mas.
Datuknya, Haji Abdul Rahman yang berasal dari Kota Bharu Reman adalah Imam perintis di surau mukim Jal Kecik.
Beliau sendiri bersepupu dengan Hajjah Zainab bt. Hj. Yusoff yang kemudiannya menjadi isteri kepada Tuan Guru Haji Mohd. Zain Meranti, guru awalnya. Seorang sepupunya lagi ialah Haji Ahmad bin Haji Yusoff, Imam mukim Meranti yang meninggal dunia pada 21 Ogos 1961. Juga bertalian dua pupu dengan Tuan Guru Haji Abdullah bin Haji Ali, Kg. Jalah, Bunut Susu (meninggal 2 Ogos 1931).
Manakala Pak Chu Haji Mat Saman bin Haji Abu, guru al-Quran ternama di kawasan Lambor/Kubang Batang sebelum Bah Air Merah (1926) itu pula ialah abang iparnya.
Kerana latar belakang keluarga yang sedemikian maka tidak hairanlah jika beliau sudah mula terdedah kepada pengajian asas agama sejak kecil lagi.
Selepas menuntut beberapa ketika dengan Tok Kenali dan Tok Selehong beliau pergi menamat di kota Makkah selama 9 tahun lagi. Barisan gurunya termasuk Syeikh Omar Hamdan, Tuan Mukhtar Bogor, Tok Senggora, Tok Shafie Kedah, Pak Cik Wan Daud Patani, Haji Sulong Patani, Pak Da Ail Patani dan Syeikh Muhammad bin Syeikh Nik Dir Patani.
Pada 1934, pulang ke Kelantan iaitu mendirikan Pondok Lambor yang telah melahirkan tokoh-tokoh seperti Haji Mat Nor Rushdi Haji Awang Gagah (pengasas Pondok Tasat di Legor, Thailand). Haji Wan Mat Wan Saleh (pendiri Pondok Paya Ular di Bunut Susu), Haji Mohd. Nor Haji Abdullah (guru Pondok Teliar), Pak Su Che Wil Haji Abdul Rahman (Imam Tua mukim Delima), Pak Su Loman (Imam Bunut Susu), Haji Yaakub Awang, Kg. Jelutong, Gunong, Bachok dan Haji Che Wil Abdul Latif, Kg. Meranti Besar.
Tuan Guru Haji Awang Lambor berpulang ke rahmatullah pada pukul 3 petang Sabtu 27 Zulkaedah 1382 bertepatan 20 April 1963 dan dikebumikan di tanah perkuburan Islam Pondok Lambor, Wakaf Bharu.

HAJI DAUD BUKIT ABAL
(1906 – 1976)
Syeikh tarekat Ahmadiyah terpenting di rantau ini selepas generasi Mufti Haji Wan Musa/Sidi Muhammad al-Azhari/Syeikh Mohd. Said Linggi. Adik kandung Tuan Guru Haji Mat Limbat/Gong Kemudu.
Nama penuh ahli sufi ini ialah haji Daud Shamsuddin bin Haji Omar al-Libadi. Lahir di Kg. Kerasak, Limbat, Kota Bharu sekitar 1903. Ibunya, Wan Halimah bt. Hj. Ismail ialah adik kepada Tuan Guru Haji Wan Ahmad bin Haji Ismail (lebih terkenal dengan panggilan Haji Awang Limbat). Manakala bapanya, Haji Omar bin Haji Taib berasal dari Kg. Mentera, Bukit Marak.
Antara guru-guru awalnya : Haji Ahmad Limbat, Haji Sulaiman Kubang Kachang, Tok Kenali, Tok Seridik, Haji Omar Sungai Keladi, Haji Nik Abdullah Khatib, Yaakub Legor dan Maulana Tok Khurasan.
Di kota Makkah pula, antara lain beliau mendalami pengajiannya dengan Syeikh Omar Hamdan, Syeikh Mohd. Ali al-Maliki, Syeikh Hasan al-Masyat, Syeikh Hasan al-Yamani, Syeikh Muhammad al-Azhari dan Syeikh Mohd. Shafie Kedah (Tok Shafie). Kedua-dua penama akhir inilah yang banyak mencurahkan amalan tarekat Ahmadiyah (termasuk ilmu ihsanuddin) kepadanya.
Setelah kembali dari Makkah pada awal 1941, beliau berkebun sambil mengajar agama dibeberapa tempat. Akhir sekali pulang menetap di Bukit Abal, Pasir Puteh lalu berusaha menghidupkan semula sekolah pondok peninggalan bapa mertuanya, Haji Awang Limbat.
Peringkat awalnya kurang mendapat sambutan – mungkin kerana namanya belum terserlah. Hanya selepas 1968 barulah majlis ilmunya mula mendapat perhatian ramai. Kupasan ilmu usuluddin, furu’uddin (fiqh 4 mazhab) dan ihsanuddin yang menjurus kepada pengalaman zikir tarekat kemudiannya terbukti sangat popular. Untuk kemudahan murid-muridnya beliau mengulang cetak karyanya sendiri, iaitu Risalat al-Aqaid wa al-Fawaid (cetakan pertama 1956); dan pada awal 1970-an diedarkan pula stensilan Risalat al-Tasawuf yang sempat disusun setakat 8 siri sahaja kerana masalah kesihatannya.
Tuan Guru Haji Daud meninggal dunia di Bukit Abal ketika pondoknya sedang berkembang maju, iaitu pada pukul 2 petang Ahad 1 Safar 1396 bersamaan 1 Februari 1976.
Warisan ilmunya kini disebarkan pula oleh tokoh-tokoh seperti Tuan Guru Haji Ghazali Tunjong, Pak Da Awang Kampung Pek, Ustaz Mustafa Muhammad al-Ahmadi (pengarang buku Mengenal Diri dan Wali Allah yang sangat popular itu). Ustaz Wan Hasan Muhammad Bukit Tanah (ahli Jemaah Ulama MAIK), Drs. Abdul Rahman Haji Ahmad (Timbalan Ketua Pengelola Dakwah Halaqat Negeri Kelantan) dan Prof Dr. Hamdan Hassan (Universiti Brunei Darussalam).
Dakwah Para Rasul
Abu Muhamad HamzahSeptember 16, 2010 at 1:57pm Subject: Dakwah Para Rasul (3) 2. Engkau meninggalkannya Meyakini perbuatan syirik itu adalah bathil belumlah cukup, namun harus disertai meninggalkan perbuatan syirik itu. Orang yang meyakini pembuatan tumbal/sesajen itu bathil, akan tetapi karena takut akan dikucilkan masyarakatnya lalu ia melakukan hal tersebut, maka dia tidak kufur terhadap thaghut. Orang yang meyakini bahwa demokrasi itu syirik, tetapi dengan dalih ‘Mashlahat Dakwah’ lalu ia masuk ke dalam sistem demokrasi tersebut, maka dia tidak kufur terhadap thaghut. Seperti orang yang membuat partai-partai berlabel Islam dalam rangka ikut dalam ‘Pesta Demokrasi’ Sesungguhnya kufur terhadap thaghut menuntut seseorang untuk meninggalkan dan berlepas diri dari kemusyrikan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadati” (Az Zukhruf: 26-27) Juga firmanNya Ta’ala tentang Ibrahim ‘alaihissalam.: “Dan saya tinggalkan kalian dan apa yang kalian seru selain Allah” (Maryam: 48) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi akan laa ilaaha ilallaah…” (Muttafaq ‘alaih) Sedangkan orang yang tidak meninggalkan syirik, maka dia itu tidak dianggap syahadatnya, karena yang dia lakukan bertentangan dengan apa yang dia ucapkan, oleh sebab itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: “Dan siapa yang bersyahadat laa ilaaha ilallaah, namun di samping ibadah kepada Allah, dia beribadah kepada yang lain juga, maka syahadatnya tidak dianggap meskipun dia shalat, shaum, zakat dan melakukan amalan Islam lainnya” (Ad Durar As Saniyyah: 1/323, & Minhajut Ta’sis: 61). Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad rahimahullah berkata: “Ulama berijma, baik ulama salaf maupun khalaf dari kalangan para shahabat dan tabi’in, para imam dan semua Ahlus Sunnah bahwa orang tidak dianggap muslim, kecuali dengan cara mengosongkan diri dari syirik akbar dan melepaskan diri darinya” (Ad Durar As Saniyyah: 2/545). Beliau juga berkata: “Siapa yang berbuat syirik, maka dia telah meninggalkan Tauhid” (Syarah Ashli Dienil Islam, Majmu’ah tauhid). Orang berbuat syirik, dia tidak merealisasikan firmanNya: “Dan mereka itu tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah seraya memurnikan seluruh ketundukan kepadaNya” (Al Bayyinah: 5). Orang yang melakukan syirik akbar meskipun tujuannya baik maka dia tetap belum kufur terhadap thaghut. Al Imam Su’ud Abdil Aziz Ibnu Muhammad Ibnu Su’ud rahimahullah berkata: “Orang yang memalingkan sedikit dari (ibadah) itu kepada selain Allah maka dia itu musyrik, sama saja dia itu ahli ibadah atau orang fasik, dan sama saja maksudnya itu baik atau buruk” (Durar As Saniyyah: 9/270). Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya pelafalan laa ilaaha ilallaah tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya berupa komitmen terhadap tauhid, meninggalkan syirik, dan kufur kepada thaghut maka sesungguhnya hal itu (syahadat) tidak bermanfaat, atas ijma (para ulama)” (Kitab Taisir) Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata: “Para ‘ulama ijma, bahwa siapa yang memalingkan sesuatu dari dua macam do’a kepada selain Allah, maka dia telah musyrik meskipun dia mengucapkan Laa ilaaha ilallaah Muhammadurrasulullah, dia shalat, shaum dan mengaku muslim” (Ibthal At Tandid: 76). Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata: “Orang tidak disebut muwahhid kecuali dengan cara menafikan syirik dan bara’ah darinya” Jadi, orang yang tidak meninggalkan syirik, dia tidak kufur terhadap thaghut. | |
ZainudinHarun: http://www.mymaktabaty.com/
AL GHULUW FIT TAKFIER
Abu Saif Azzam MuttaqinSeptember 17, 2010 at 8:07pm Subject: AL GHULUW FIT TAKFIER 1 bag 15 Ibnu Jarir Ath Thabari berkata di dalam Tafsirnya: “Ini termasuk dalil yang paling menunjukan kekeliruan orang yang mengklaim bahwa seorangpun tidak menjadi kafir kepada Allah kecuali kalau dia bermaksud untuk kafir setelah dia mengetahui keesaan Allah…” sampai ucapannya ” Seandainya masalahnya seperti apa yang mereka klaim bahwa seorangpun tidak menjadi kafir kepada Allah kecuali setelah dia mengetahui, tentu mestilah orang-orang yang mana di dalam amalannya itu Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan bahwa mereka itu mengira berbuat sebaik-baiknya, mestilah mereka itu mandapatkan pahala atasnya, akan tetapi pendapat yang benar adalah tidak seperti apa yang mereka katakan; di mana Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa mereka itu adalah kafir terhadap Allah dan bahwa amalan mereka itu terhapus.” Hal 44-45 terbitan Darul Fikr. Beliau rahimahullah berkata di dalam Tahdzibul Atsar setelah menuturkan hadits-hadits tentang Khawarij: “ Di dalamnya terdapat bantahan kepada orang yang mengatakan bahwa seorangpun dari ahli kiblat tidak dikeluarkan dari Islam setelah dia berhak mendapatkan vonisnya kecuali bila dia bermaksud keluar darinya seraya mengetahui.” Dinukil dari Fathul Bari (Kitab Istitabatul Murtaddin…) (Bab Man Taraka Qitalal Khawarij). Dan Ibnu Hajar sendiri berkata di dalam bab yang sama: “Di dalamnya ada penjelasan yang menunjukan bahwa di antara kaum muslimin ada orang yang keluar dari agama ini tanpa ada maksud dia untuk keluar darinya, dan tanpa memilih agama yang lain selain Islam.” Selesai. Dan kesimpulannya di sini adalah: Bahwa yang menjadi patokan di dalam pensyaratan adanya kesengajaan dan maksud atau ketidakadaan maksud tersebut sebagai suatu penghalang dari sekian penghalang pengkafiran adalah si orang bermaksud melakukan perbuatan yang mukaffir, bukan bermaksud untuk kafir. 2). Takwil: Maksudnya di sini adalah menempatkan dalil syar’iy bukan pada tempatnya dengan sebab ijtihad atau syubhat yang muncul karena ketidakpahaman terhadap dilalah nash atau memahaminya dengan pemahaman yang salah atau menduga suatu yang bukan dalil sebagai dalil, seperti berdalil dengah hadits dlaif yang dia kira shahih, sehingga si mukallaf itu melakukan kekafiran yang dia kira bukan kekafiran, sehingga dengan sebab itu hilanglah syarat kesengajaan, dan kekeliruan di dalam takwil ini menjadi penghalang dari pengkafiran. Kemudian bila hujjah telah ditegakkan terhadapnya serta dijelaskan kekeliruannya, namun dia tetap bersikukuh di atasnya maka dia kafir. Dan dalil atas hal ini adalah ijma para sahabat yang menganggap bahwa macam takwil ini adalah tergolong kekeliruan yang Allah subhanahu wa ta’ala ampuni dengan dalil-dalil yang telah lalu, dan ini pada kisah Qudamah Ibnu Madh’un di mana ia dan para sahabatnya meminum khamr seraya berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Maidah: 93) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq di dalam Mushannafnya. Di mana Qudamah ini telah ditugaskan oleh Umar untuk mengurusi Bahrain, kemudian tatkala Abu Hurairah dan yang lainnya juga isteri Qudamah bersaksi bahwa ia telah meminum khamr, maka Umar memanggilnya dan memecatnya, dan tatkala beliau mau menghukumnya dengan had khamr, maka Qudamah berdalil dengan ayat tadi, maka Umar berkata: Kamu salah takwil.” Ibnu Taimiyyah berkata di dalam Ash Sharim: “Sampai akhirnya pendapat umar dan ahli syura bersepakat untuk mengistitabah Qudamah dan para sahabatnya, kemudian bila mereka mengakui keharaman khamr maka mereka akan didera dan bila tidak mengakui haram maka mereka dikafirkan.” Selesai hal 530…..kemudian sesungguhnya Umar menjelaskan kekeliruannya dan berkata: “Sesungguhnya bila kamu andaikata bertaqwa tentu kamu menjauhi apa yang diharamkan terhadapmu dan kamu….” maka ia rujuk, dan akhirnya tidak dikafirkan dengan sebabnya, namun cukup dengan penegakkan had khamr terhadapnya dan tidak seorangpun dari para sahabat menyelisihinya. Dan dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “adapun orang yang belum tegak hujjah terhadapnya seperti orang yang baru masuk Islam atau hidup di pedalaman yang jauh yang belum sampai kepadanya syari’at-syari’at Islam dan orang yang seperti itu, atau dia keliru sehingga menduga bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh itu dikecualikan dari pengharaman khamr, sebagaimana kekeliruan yang dilakukan oleh orang-orang yang diistitabah oleh Umar dan yang semacam itu, maka sesungguhnya mereka itu diistitabah dan ditegakkan hujjah terhadapnya, kemudian bila mereka bersikukuh maka mereka kafir, dan mereka tidak divonis kafir sebelum itu sebagaimana para sahabat tidak mengkafirkan Qudamah Ibnu Madh’un dan para sahabatnya tatkala mereka keliru di dalam takwil yang tadi.” Majmu Al Fatawa 7/609-610. Dan berkata juga: Orang yang melakukan takwil dan orang yang jahil yang diudzur, hukumnya adalah tidak sama dengan hukum orang yang mu’anid dan yang aniaya, akan tetapi Allah telah menjadikan ketentuan bagi setiap sesuatu.” Majmu Al Fatawa 3/180. Jadi madzhab salaf adalah tidak mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil dari kalangan ahli kiblat. Ahli kiblat itu masuk di dalamnya di samping orang muslim sunni adalah orang fasiq ‘amali, dan ahli bid’ah yang mentakwil. Adapun Khawarij, Mu’tazilah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka seperti Zaidiyyah dan sebagian ahli kalam seperti Asy Syahrastani di dalam Al Milal wan Nihal, maka mereka itu tidak memasukan ahli takwil di dalam ahli kiblat. Dan telah lalu apa yang dinukil oleh Al Qadli ‘Iyadl di dalam (pasal, Tahqiqul Qaul Fi Ikfaaril Muta’awwilin) di kitabnya Asy Syifa 2/277 dari para ‘ulama muhaqqiqin, ucapan mereka: “Sesungguhnya wajib menghindari dari mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil, karena penghalalan darah orang-orang yang shalat lagi bertauhid itu adalah berbahaya…” dan nanti akan datang pengisyaratan apa yang beliau sebutkan di dalam Asy Syifa tentang orang yang tidak mengkafirkan orang yang menambahkan sesuatu (sifat) yang tidak layak kepada Allah tapi bukan dalam rangka celaan dan kemurtaddan, namun karena takwil atau penafian sifat dengan klaim ingin mensucikan Allah dan yang serupa itu. Ibnul Wazir berkata: “Firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam ayat ini: “akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran..” (An Nahl: 106) menguatkan bahwa orang-orang yang melakukan takwil itu bukan orang kafir, karena dada mereka tidak lapang dengan kekafiran secara pasti ataupun dugaan, atau pembolehan atau kemungkinan.” Itsarul Haq ‘Alal Khalq hal: 437. Adapun apa yang dijadikan tameng oleh kaum zindiq yang mulhid bagi kekafiran mereka yang jelas berupa omong kosong dan pengkaburan serta sikap mempermainkan agama, maka ia itu walaupun dinamakan takwil oleh sebagian orang-orang yang bodoh, akan tetapi sesungguhnya ia itu adalah tertolak lagi tidak bisa dicerna dan tidak bisa diterima. Dan itu dikarenakan nyatanya kekafiran mereka, sedangkan yang menjadi patokan itu adalah makna kandungan dan hakikat isi bukan sekedar penamaan dan ungkapan kata yang biasa dijadikan permainan oleh banyak kalangan pengikut hawa nafsu, di mana banyak sekali kebatila yang dihiasi indah oleh para penganutnya dalam rangka menyelisihi syari’at. Oleh sebab itu Al Qadli ’Iyadl menukil ucapan para ‘ulama di dalam Asy Syifa: Klaim takwil di dalam kalimat yang jelas adalah tidak diterima.” 2/217. Dan hal itu ditegaskan juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Ash Sharim Al Maslul hal 527. Barangsiapa dikenal kezindiqannya serta permainannya terhadap dalil-dalil syar’iy atau dia melakukan suatu sebab kekafiran yang nyata lagi jelas yang tidak memiliki kemungkinan takwil, maka klaim takwil darinya tidak bisa diterima, karena di sana tidak ada ijtihad dan tidak ada takwil yang membolehkan untuk melakukan kekafiran yang nyata, di mana hampir semua orang kafir memiliki hujjah takwil yang rusak yang dengannya dia menambali kekafirannya. Oleh sebab itu Ibnu Hazm berkata: “Barangsiapa telah sampai kepadanya suatu urusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara yang tsabit, sedangkan dia itu muslim, terus dia melakukan takwil yang menyelisihinya, atau bisa saja sampai kepadanya nash yang lain, maka hujjah belum tegak terhadapnya di dalam kekeliruan dia meninggalkan apa yang dia tinggalkan dan di dalam kekeliruan dia mengambil apa yang dia ambil, maka dia itu mendapatkan pahala lagi diudzur, karena dia memaksudkan kepada al haq namun dia tidak mengetahuinya, namun bila telah tegak hujjah terhadapnya di dalam hal itu terus dia bersikukuh, maka tidak ada takwil setelah tegak hujjah.” Ad Durrah 414. Dan berkata: Adapun orang-orang yang bukan muslim baik itu nasrani, atau yahudi, atau majusi, atau agama-agama lainnya atau kaum kebatinan yang mengatakan ketuhanan manusia tertentu atau yang mengatakan kenabian seseorang setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka itu tidak diudzur sama sekali dengan sebab takwil, namun mereka itu justeru adalah kaum kafir yang musyrik.” Ad Durrah Fima Yajibu I’tiqaduhu hal 441. | |